Airmata itu

Setiap ku lihat butiran yang mengkilap bagaikan permata aku selalu tersentak, "apa salah ku dan apa dosaku"  slalu kata itu yang menghantui hati nuraniku, malam yang berganti sampai sang fajar menjelang menyambut dengan senyum sontak meredup dikala dia meninggalkanku sendiri dengan wajah sayu, menuju jendela ruang tamu memandang keluar dikala hujan yang mengguyur bumi pagi itu, sambil menundukkan kepalanya dia seperti meratapi dan menikmati setiap tetesan mengkilap yang jatuh perlahan melewati pipinya.... :(
"Sayang kenapa?"

sudah tak terhitung aku bertanya tapi dia memilih diam tanpa kata.
Sementara waktu terus berjalan menunjukkan bahwa aku harus berangkat bekerja, diawali dengan maandi, ganti baju, sarapan sampai berangkat tiada kata yang dikeluarkannya sedikitpun yang menunjukkan bahwa dia sedang sedih dan tak ingin diganggu.
Dengan perasaan gunda aku terjang hujan badai yang semakin jauh motor ku berjalan semakin deras hujan yang mengguyur, dingin tak lagi terasa, Badai tak lagi menakutkan dikala sepanjang jalan aku memikirkan kondisinya yang sedang meneteskan air mata.
Sayang maafkan aku jikalau ada salah, meski aku tak faham betul apa penyebab tangisan itu tapi aku tau betul sakit hati yang kau rasakan.
lintasberita

Artikel Lain yang Terkait



1 komentar:

Kuswanto el-zany mengatakan...

luv u nda

Posting Komentar

isi comment tentang blog ini

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Blognya Zein | Bloggerized by Kuswanto el-zein - facebook : kuswanto.zein - twitter : kuswanto_zein